7 Mitos Seputar Imunisasi Anak yang Perlu Anda Ketahui

Daftar Imunisasi Wajib yang Harus Didapat Si Kecil - Alodokter

Pemberian imunisasi ialah langkah jitu orang tua untuk memberikan perlindungan lebih pada anak. Terlebih pada usia di bawah lima tahun, anak masih rentan terhadap berbagai penularan penyakit.

Namun tidak sedikit orang tua termakan mitos seputar imunisasi anak, sehingga beberapa diantaranya ragu untuk melakukannya. Lantas apa saja mitos seputar imunisasi anak? Simak informasinya berikut ini.

Berbagai Mitos Seputar Imunisasi Anak

  1. Dianggap tidak aman dan mengganggu kesehatan tubuh

Pandangan ini tidak seutuhnya benar. Sebab pemberian vaksin secara bersamaan, terutama vaksin kombinasi seperti IPV dengan DTwP atau DtaP tidak membahayakan. Asal disuntikkan pada lokasi yang berbeda, misal di lengan kanan atau kiri maupun paha dengan lengan.

Uji ilmiah membuktikan pemberian vaksin secara bersamaan membawa keuntungan diantaranya:

  • Efektif, mengurangi kunjungan ke fasilitas kesehatan untuk melakukan imunisasi
  • Aman, dalam jangka panjang tidak berdampak buruk pada gangguan sistem antibodi
  • Mengurangi efek samping pasca imunisasi, seperti rasa nyeri atau tidak nyaman pada tubuh anak
  1. Penyakit membuat anak jadi kebal

Tidak sedikit dari Anda tentu pernah mendengar pernyataan ini. Datangnya penyakit tidak menjamin kekebalan tubuh anak akan semakin baik. Beberapa penyakit membahayakan beresiko mengancam nyawa bagi penderitanya.

Menurut laporan World Health Organization (WHO) 2019, munculnya penyakit membahayakan seperti pneumonia, tetanus, diare akut masih menjadi indikator tingginya Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia.

  1. Cukup dengan pola hidup sehat

Menjaga pola hidup agar tetap sehat memang penting untuk dilakukan. Tapi bukan berarti hanya dengan melakukan hal ini kita bebas dari ancaman infeksi dan penyebaran penyakit.

Sejarah mencatat penyebaran campak dan polio telah mengancam kesehatan penderitanya, walaupun pola hidup sehat dan bersih diterapkan secara maksimal. Imunisasi pada anak terukti menjadi solusi yang tepat menekan penyakit-penyakit tersebut.

  1. Menimbulkan kematian mendadak

Jenis vaksin seperti polio dan difteri, pertusis, dan tetanus (DPT) diduga menimbulkan sindrom kematian bayi mendadak (SIDS). Dugaan ini tidak benar, tidak ada bukti ilmiah yang dapat membenarkan pernyataan tersebut.

Munculnya kasus SIDS setelah imunisasi tentu tidak sepenuhnya dibebankan pada pemberian vaksin. Terjadinya SIDS tentu akan tetap terjadi tanpa vaksinasi sekalipun. Justru adanya penyakit polio, difteri, pertusis, maupun tetanus berpotensi menimbulkan kecacatan hingga resiko kematian pada anak.

  1. Mengandung zat kimia yang berbahaya

Merkuri dianggap sebagai salah satu zat kimia berbahaya yang terkandung dalam vaksin. Pandangan ini tidak sepenuhnya benar.

Bukti ilmiah menunjukkan beberapa jenis vaksin mengandung turunan merkuri, yakni thimerosal yang mengandung etil merkuri dengan jumlah yang amat kecil. Thimerosal  inilah yang berperan sebagai pengawet. Namun tidak semua vaksin menggunakan pengawet jenis ini.

Pandangan soal kandungan merkuri yang ditemukan pada vaksin tidak dapat dibenarkan. Sehingga vaksin dapat dikatakan tidak beresiko gangguan kesehatan.

  1. Beresiko pada autisme

Kabar buruk melanda dunia kesehatan pada masanya. Vaksin MMR dituding berdampak pada gangguan autistik anak-anak. Hal ini didasarkan atas penelitian yang dilakukan oleh Andrew Wakefield pada tahun 1998.

Kendati demikian, hasil penelitian tersebut dianggap menyesatkan dan terbukti melakukan pelanggaran profesional serius oleh General Medical Council (GMC) pada tahun 2010.

Sejumlah penelitian telah membuktikan tidak terdapat hubungan antara gangguan autistik dengan vaksin MMR. Justru keberadaan vaksin MMR telah teruji klinis dan membantu mengentaskan penyebaran penyakit campak.

  1. Meningkatkan resiko kanker

Pernyataan ini tidak benar. Justru kemunculan vaksin seperti human papilloma virus (HPV) yang diberikan sejak anak berusia 9 tahun dapat menekan penularan kanker.

Berbagai penyakit seperti kanker serviks pada perempuan, kanker anus, penis, maupun orofaringeal dapat dicegah dengan melakukan vaksinasi sejak dini. Sedangkan kasus peningkatan kanker tidak memiliki hubungan dengan imunisasi. Pola hidup tidak sehat menjadi salah satu faktor penyebab meningkatnya kasus kanker.

Adanya mitos seputar imunisasi memang tidak dapat dihindarkan. Ulasan di atas tentu dapat memperluas informasi Anda terkait imunisasi anak. Oleh karena itu, penting bagi Anda mengakses informasi secara bijak dan sedetail mungkin mengenai isu-isu imunisasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.